Naskah Khutbah Jumat - Mempersiapkan Diri Lebih Dini Menyambut Bulan Suci
Naskah Khutbah Jumat
(Volume 21 - Sya'ban 1447 H/Februari 2026 M)
(Diterbitkan oleh Tim Media IDAROH [Ikatan Da'i Rohmatan lil 'Aalamiin])
MEMPERSIAPKAN DIRI LEBIH DINI MENYAMBUT BULAN SUCI
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ، وَقَرَّبَنَا مِنْ أَيَّامِ الرَّحْمَاتِ وَالْبَرَكَاتِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فُرْصَةِ الْغُفْرَانِ، حَيْثُ أَدْنَى إِلَيْنَا شَهْرَ الصِّيَامِ؛ شَهْرَ الْقُرْآنِ وَالْقِيَامِ؛ وشَهْرَ التَّقْوَى وَالْإِحْسَانِ.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نُجَاهِدُ بِهَا أَهْوَاءَنَا، وَنُقَاوِمُ بِهَا غَفْلَتَنَا. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ المرسلين، وَقُدْوَةُ الْعَابِدِينَ.
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فإن التَّقْوَى خَيْرَ زَادٍ فِي الدَّارَيْنَ، لِمَنْ طَلَبَ السَّعَادَةَ والرِّضَا مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾ (التوبة: ١١٩)
Jamaah Jumat rahimakumuLaah,
Mari kita senantiasa menjaga takwa. Agar hidup senantiasa bahagia. Di akhirat dan juga di dunia. Hanya takwa bekal kita satu-satunya. Saat menghadap Allah SWT. Karena itu menjaga takwa harus jauh lebih serius dan lebih sungguh-sungguh melebihi keseriusan dan kesungguhan kita dalam memburu dunia yang fana.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Pada Bulan Sya'ban ini, semilir angin Ramadhan sudah mulai kita rasakan. Aromanya pun sudah mulai menebarkan keharuman. Makin menumbuhkan kerinduan di hati setiap orang beriman. Untuk segera berjumpa dengan bulan yang penuh dengan ragam keberkahan.
Ramadhan adalah madrasah ketakwaan. Ramadhan sekaligus juga merupakan madrasah ujian. Namun, tidak ada orang yang berhasil dalam ujian tanpa masa persiapan. Dalam menghadapi ujian Ramadhan, Sya‘ban adalah kelas pendahuluan sekaligus kelas persiapan. Sayangnya, justru bulan ini sering kita tinggalkan. Bahkan sering kita lupakan. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Itulah Sya'ban. Bulan yang sering dilalaikan oleh manusia kebanyakan. Bulan antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan Sya'ban itu amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam. Karena itu aku suka ketika amal-amalku diangkat kepada-Nya, aku dalam keadaan shaum. (HR an-Nasa'i).
Para salafush shalih memahami makna ini. Karena itu mereka tidak menyambut Ramadhan dengan dingin dan suasana sepi. Akan tetapi, mereka menyambut kedatangannya dengan banyak berpuasa sunnah, tilawah al-Quran dan upaya penyucian diri. Khususnya pada Bulan Sya'ban ini.
Mereka memulai perubahan diri jauh sebelum Ramadhan. Mereka membersihkan hati jauh sebelum puasa diwajibkan. Demikian pula yang Rasulullah saw. teladankan. Ummul Mukminin Aisyah ra. menegaskan:
مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِيْ شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada pada bulan Sya’ban.” (HR al-Bukhari).
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Sya’ban juga dikenal sebagai bulan al-Quran. Demikian sebagaimana yang Ibnu Rajab rahimahulLaah nyatakan. Sebabnya, sebelum Ramadhan tiba, generasi salafush-shalih sudah biasa hidup bersama al-Quran. Khususnya pada Bulan Sya'ban. Pada bulan inilah al-Quran sering dikhatamkan. Ayat-ayatnya mereka baca dengan kefasihan lisan. Makna-maknanya mereka renungkan dengan pikiran dan jiwa yang penuh dengan kekhusyukan. Semua itu mereka lakukan. Tidak lain demi mempersiapkan diri menyambut kedatangan Ramadhan.
Dalam hal ini Amr bin Qais rahimahulLaah menyatakan:
طُوبَى لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمَضَانَ
Beruntunglah orang yang memperbaiki dirinya atau menyucikan jiwanya sebelum kedatangan Ramadhan (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma‘aarif).
Karena itulah, sejak masuk tanggal 1 Sya'ban, Amr bin Qais segera menghentikan seluruh kegiatan bisnisnya. Menutup semua tokonya. Ia memilih al-Quran daripada keuntungan dunia. Sebabnya, ia paham bahwa keuntungan membaca dan mengkhatamkan al-Quran jauh melebihi keuntungan bisnis duniawi berapa pun besarnya.
Jamaah sekalian,
Ibadah individual seperti puasa Ramadhan tentu tidak akan sempurna dalam kehidupan yang rusak di mana-mana. Di sinilah Islam mengajarkan kita bahwa takwa bukan hanya urusan masing-masing pribadi saja. Takwa juga merupakan urusan masyarakat dan bahkan negara. Sebabnya, kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan ragam keberkahan hanya dapat diwujudkan saat ketakwaan terjaga dan terpelihara; baik di level individu, masyarakat maupun negara.
Lihatlah Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahulLaah. Seorang pemimpin Muslim yang bertakwa. Ketika malam tiba dan selesai urusan negara, beliau segera memadamkan lampu di istananya. Mengapa? Karena cahaya lampu itu milik rakyatnya. Bukan milik pribadinya.
Beliau biasa menunaikan shaum. Beliau pun biasa melaksanakan shalat malam. Namun, yang lebih agung, beliau membersihkan sistem pemerintahan dari segala bentuk kezaliman. Wajar jika pada masa kepemimpinannya kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan benar-benar dirasakan oleh rakyat kebanyakan. Bukan oleh segelintir orang. Pada masanya mustahiq zakat pun sulit ditemukan. Itulah buah dari ketakwaan. Bukan hanya di level pribadi, tetapi juga di level kebijakan dan sistem pemerintahan yang senantiasa tunduk pada al-Quran.
Karena itu, Jamaah Jumat sekalian, tanpa kita hidup dalam sistem Islam, Ramadhan hanya akan menjadi ritual tahunan. Sebaliknya, dalam sistem Islam, Ramadhan akan mampu melahirkan peradaban yang penuh dengan ketakwaan.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Ramadhan pun mengingatkan kita agar senantiasa menjauhkan diri kita dari ragam kezaliman. Tindakan zalim tentu akan merusak pahala shaum Ramadhan.
Dalam perspektif Islam, kezaliman mencakup segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang telah Allah tetapkan. Kezaliman tidak terbatas pada tindakan fisik penuh kekerasan, tetapi mencakup pelanggaran terhadap hak Allah SWT, hak manusia dan seluruh tatanan keadilan.
Pelanggaran terhadap hak Allah SWT terwujud dalam bentuk pengingkaran terhadap hukum-hukum-Nya dalam mengatur kehidupan. Allah SWT telah menegaskan:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah para pelaku kezaliman (QS al-Maidah [5]: 45).
Pelanggaran terhadap hak manusia mencakup perampasan dan segala bentuk penindasan; baik yang dilakukan oleh orang-perorang, kelompok masyarakat maupun oleh negara atau pemerintahan. Adapun perusakan tatanan keadilan terjadi ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang sehingga hukum tidak lagi berfungsi sebagai pelindung, melainkan sebagai alat legitimasi kezaliman. Al-Quran secara tegas mengecam tindakan demikian. Allah SWT berfirman:
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya (QS Ghafir [40]: 31).
Allah SWT pun berfirman:
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ
Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam (QS Ali ‘Imran [3]: 108).
Bahkan sekadar cenderung kepada pelaku kezaliman telah diancam oleh Allah dengan ancaman yang tidak main-main:
وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong (QS Hud [11]: 113).
Karena itu jelas haram mendukung atau membenarkan segala bentuk kezaliman. Apalagi Allah sangat membenci para pelaku kezaliman. Demikian sebagaimana firman-Nya dalam al-Quran:
وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Allah tidak menyukai para pelaku kezaliman (QS Ali Imran [3]: 57).
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Takwa tidak mungkin tumbuh di atas ragam kezaliman. Karena itu persiapan Ramadhan juga berarti persiapan membangun kehidupan yang dipenuhi dengan keadilan dan kosong dari ragam kezaliman. Itulah kehidupan yang tunduk pada al-Quran. Kehidupan yang diatur hanya oleh syariah Islam.
Sebabnya, umat ini tidak akan bangkit hanya dengan sekadar menjalankan ritual Ramadhan tahunan. Umat ini akan bangkit ketika syariah Islam diterapkan secara kaaffah dalam semua aspek kehidupan. Baik di level individu, masyarakat maupun negara dan pemerintahan.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Demikian khutbah yang singkat ini saya sampaikan. Semoga menjadi bahan renungan dan bisa kita amalkan dalam kehidupan.
اَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغُفْوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، الَّذِي جَعَلَ الْعِزَّةَ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى الْكَافِرِينَ الظَّالِمِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ.
صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاْلإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: ١٠٢)
Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Sya‘ban adalah waktu terbaik untuk bertobat kepada Allah dengan penuh kesungguhan. Ramadhan adalah bulan penuh dengan ampunan. Namun, ampunan hanya akan diberikan kepada orang yang mau kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran. Untuk membersihkan jiwanya dari segala kotoran dosa dan kemaksiatan. Allah telah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya (QS al-A‘laa [87]: 14).
Karena itu mari kita sucikan hati dan jiwa kita sebelum Ramadhan. Mari kita sucikan kehidupan kita dari sistem dan semua aturan yang bertentangan dengan syariah Islam. Hanya dengan itulah ketakwaan hakiki bisa kita wujudkan.
Jamaah Jumat rahimakumulLaah,
Terakhir ini, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa kita.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَىٰ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ.
اَللّٰهُمَّ أَقِمْ لَنَا خِلَافَةً رَاشِدَةً عَلَىٰ مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُطَبِّقُ شَرْعَكَ كَافَّةً، وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَحْمِيْهَا دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ، وَتَحْمِلُ رِسَالَةَ الْإِسْلَامِ بِالدَّعْوَةِ وَالْجِهَادِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِينَا، وَلِلْمُؤْمِنِينَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمُ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
_
